Rabu, 21 Januari 2015

Bagaimana Menyikapi Kritikan?

Satu hal yang perlu kita sadari adalah bahwa kita tidak akan pernah lepas dari kritikan, terlepas apapun yang kita lakukan. Kenapa? Karena sebaik dan seakurat apapun yang kita lakukan, pasti masih menyisakan ruang untuk dikritik alias tidak sempurna jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda.


Dengan menyadari satu hal di atas, akan membuat kita lebih teguh dalam pendirian, namun disisi lain, lebih terbuka terhadap kritik yang dilontarkan kepada kita.


Apa reaksi kita menyikapi kritikan? bisa kita pelajari berdasarkan otak mana yang digunakan oleh seseorang dalam merespon sebuah kritik. Respon pertama yang paling mungkin dalam menghadapi kritik adalah dengan reptilian brain.


Reptilian brain adalah otak mirip binatang melata seperti ular, biawak, kadal dan lain-lain. Reptilian brain ini tertanam dalam batang otak kita. Bagaimana respon reptilian brain ini terhadap sebuah kejadian? Fight or Flight, Lawan atau Lari. Ciri dari cara berpikir otak ini adalah spontan dan di masa kini.


Bagaimana jadinya jika kita menggunakan otak tersebut dalam menyikapi kritik? ciri jika kita menggunakan otak ini, maka dalam diri anda akan ada perasaan ingin melawan si pengkritik, atau menghindar dari tuduhan si pengkritik.


Ular jika dipukul, maka akan balik menyerang, atau akan lari sekencang-kencangnya, menjauhi si penyerang. Alih-alih melihat sisi baik sebuah kritik, orang yang menggunakan otak reptilian untuk menanggapi kritik, akan menyerang si pengkritik jika ia memiliki kemampuan, atau berusaha menghindar jika tak memiliki kemampuan.


Yang berikutnya adalah menghadapi kritik dengan otak mamalia atau mamalian brain. Mamalian brain adalah otak yang memproses emosi. Otak ini fokus pada masa lalu dan masa kini. Otak mamalia memproses emosi marah, senang, sedih, takut dan lain-lain. Maka ketika diberi kritik, otak ini akan fokus kepada masa lalu, apa salah saya di masa lalu? atau dia akan membangga-banggakan masa lalunya untuk pembelaan diri. Dia akan tenggelam dengan emosi marah jika ia memiliki kemampuan, atau sedih jika ia kurang memiliki kemampuan.


Otak Reptilian dikombinasi dengan otak mamalian, akan menghasilkan Marah dan Menyerang, atau takut dan lari, tentu ada pilihan lain, sedih dan diam, menyesali diri.


 photo menyikapikritikan.jpg


Menyikapi Kritik dengan Produktif


Lalu adakah pilihan lain, dalam menyikapi kritikan agar lebih produktif?


Jawabannya, gunakanlah creative brain atau human brain, otak yang fokus kepada masa depan. Sementara Reptilian brain mengantar kita ke masa kini, mamalian brain mengantar kita  ke masa lalu, secepatnya fokuslah kepada masa depan. Masa depan adalah bagiannya human brain, otak kreatif kita.


Kita bisa merangsang human brain  dengan beberapa pertanyaan kreatif, seperti:


* Apa hal yang pantas saya syukuri dari kritik ini?

* Jadi, apa manfaatnya kritik ini untuk saya di masa depan?

* Perbaikan apa yang bisa saya lakukan, agar kritik ini berguna?

* pelajaran dan hikmah apa, yang bisa saya dapatkan dari kritik ini?

* Apa manfaat kritik ini, bagai pencapaian GOAL saya?


Kita tentu bisa menambahkan segudang pertanyaan, yang kita hubungkan dengan MASA DEPAN, bukan sebaliknya banyak mengungkit masa lalu dan emosi saat ini. Alih-alih berpikir PROBLEM, kita bisa fokus pada SOLUTION. Jika kita fokus pada problem saja, kita akan menumpuk masalah dalam hidup. Namun jika kita berpikir solusi, kita akan mengundang banyak solusi kreatif.


Jadi, mau gunakan otak yang mana untuk menanggapi kritik untuk anda? Reptilian, Mamalian atau Human Brain?



Bagaimana Menyikapi Kritikan?

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda